Universitas Brawijaya

Fakultas Peternakan.

Sapi Potong

Peluang Bisnis Ternak Sapi Potong

PAKAN TERNAK

Pakan Ternak Dari Kulit Pisang

BETERNAK SAPI

Beternak Sapi Yang Sangat Menguntungkan.

SAPI PERAH

Peternakan Susu Sapi Perah

Minggu, 11 Mei 2014

MAKALAH KELOMPOK A7

Laporan Praktikum
Mata Kuliah Penyuluhan
”Pemanfaatan Limbah Kulit Pisang sebagai Silase untuk Pakan Alternatif Ternak Ruminansia di Desa Burno Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang”




Kelompok A7



Ayu Melia Sades                    125050100111031
Yonastri Septarika                  125050100111032
Fivid Kumala                         125050100111033
Muji Lestari                           125050100111034


Fakultas Peternakan
Universitas Brawijaya
2014





KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, karunia serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pemanfaatan Limbah Kulit Pisang sebagai Silase untuk Pakan Alternatif Ternak Ruminansia di Desa Burno Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang” dengan baik dan tepat pada waktunya.
            Dalam penyusunan makalah ini, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini baik terlibat secara langsung maupun tidak.
Makalah ini disusun berdasarkan materi–materi yang ada. Materi–materi tersebut bertujuan untuk menambah pengetahuan khususnya bagi penulis dan bagi pembaca pada umumnya serta dapat menyelesaikan permasalahan yang  ada terkait dengan penanganan limbah kulit pisang di Desa Burno Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.





                                                                                              Penyusun


Malang, 3 Mei 2014






DAFTAR ISI
                                                               Halaman
KATA PENGANTAR                                                                    i
DAFTAR ISI                                                                                  ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang                                                     1
1.2              Rumusan Masalah                                                2
1.3              Tujuan                                                                  2
1.4              Manfaat                                                                3
BAB II            GAMBARAN UMUM PENYULUHAN
            2.1       GambaranUmumKegiatanPenyuluhan                  4
            2.2       GambaranUmumMasyarakatSasaran                    5
BAB III METODE PENYULUHAN
            3.1       MetodePelaksanaan                                               6
            3.2       GambaranTeknologi                                              7
            3.3       Media Penyuluhan                                                 7
DAFTAR PUSTAKA                                                                    9



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
            Usaha pengembangan ternak ruminansia di masamendatang akan menghadapi kendalaapabila hanya mengandalkan pada penggunaan hijauan sebagai bahan pakannya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Aryogi(2000) dalam Anggraeny (2006) menunjukkan bahwa pakan basal di daerah Jawa Timur didominasi oleh pakan hijauan yang bervariasi baik darijenis maupun jumlahnya.Sedangkan untuk pakantambahan misalnya dedak padi/jagungdiberikan dalam jumlah yang tidak menentu, yakniberlebihan pada musim panen dan terbatas pada musim tanam. Oleh sebab itudapat dipahami bahwa kendala yang seringdijumpai adalah rendahnya produktivitaskarena kualitas pakan yang tidak memenuhi kebutuhan. Ditambahkan pula oleh Hardianto(2002) dalam Anggraeny (2006) bahwa selain berpengaruh terhadap produktivitas, pakan juga sebagai aspek utama yang mempengaruhi biaya produksi dalam usaha peternakan yaitu sekitar 60 – 80% dari biaya produksi.
            Untuk mengatasi hal tersebut perlu di cari sumber bahan pakan baru yang mampu menjadi alternatif maupun dapat menggantikan hijauan. Sumber bahan pakan tersebut sebaiknya mudah diperoleh dalam jumlah yang banyak dengan harga yang murah. Salah satu sumber bahan pakan baru yakni limbah dari hasil pertanian/limbah industri pertanian. Diantara limbah yang belum banyak digunakan oleh peternak adalah limbah kulit pisang.
            Ada beberapa daerah yang membuat usaha home industri berbahan dasar pisang. Diantaranya adalah kabupaten Lumajang yang dijuluki kota pisang karena terkenal hasil pisangnya, terutama pisang Agung yang bisa diolah menjadi keripik pisang dan sale. Dengan adanya usaha tersebut, maka kulit pisang setiap saat akan menjadi limbah atau sampah bagi lingkungan sekitarnya yang dapat mengganggu ekosistem daerah tersebut.Sebagai contoh untuk wilayah Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang terdapat banyak Industri Kecil Menengah (IKM) yang salah satunya adalah IKM Keripik Pisang Burno Sari di Desa Burno Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang.Menurut situs Biro humas provinsi Jawa Timur (2013) yang memberitakan tentang kunjungan presiden SBY ke IKM Keripik Pisang Burno menyebutkan bahwa dalam sehari di IKM ini mampu menggoreng 200-250 tandan pisang per hari dan setiap bulannya memproduksi 165 ton bahan baku mentah pisang untuk keripik dan sale. Limbah ini merupakan sampah yang dapat mengganggu lingkungan di masyarakat sekitarnya. Gangguan tersebut berupa bau yang menyengat dan penumpukkan limbah di bantaran kali yang berpotensi dapat menyebabkan banjir dan sumber penyakit.
Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu diberikan penyuluhan tentang cara memanfaatkan limbah kulit pisang. Limbah kulit pisang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ruminansia. Berdasarkan hasil penelitian Ujianto (2003)  kemampuan ternak  ruminansia dalam mengkonsumsi kulit pisang adalah sebanyak 36,09 ± 2,72% dari total ransum terhadap bahan kering. Menurut data  Badan Pusat Statistik Kabupaten Lumajang (2013), populasi sapi potong dan sapi perah tahun 2012 di Kecamatan Senduro masing-masing sebanyak 3.119 ekor dan 3.227 ekor. Sedangkan untuk populasi domba tercatat sebanyak 1.619 ekor, dan kambing sebanyak 9.130 ekor. Jumlah ini cukup besar sehingga limbah kulit pisang dapat dioptimalkan pengolahannya untuk dimanfaatkan menjadi pakan ruminansia.

1.2  Rumusan Masalah
Limbah kulit pisang yang melimpah di Desa Burno Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang belum dimanfaatkan secara optimal. Keberadaannya dianggap sebagai pengganggu di lingkungan masyarakat sekitar. Limbah kulit pisang tanpa adanya penanganan khusus dapat menyebabkan pencemaran berupa bau yang menyengat dan penumpukkan limbah di bantaran kali yang berpotensi dapat menyebabkan banjir dan terjangkitnya penyakit. Sementara itu, di Kecamatan Senduro jumlah ternak ruminansianya cukup banyak yakni untuk sapi potong sebanyak 3.119 ekor, sapi perah sebanyak 3.227 ekor, domba sebanyak 1.619 ekor, dan kambing sebanyak 9.130 ekor (BPS Kabupaten Lumajang, 2013). Sehingga perlu dilakukan pemanfaatan limbah kulit pisang sebagai silase untuk pakan alternatif ternak ruminansia.

1.3  Tujuan
Kegiatan penyuluhan ini bertujuan antara lain; untuk menginformasikan konsep silase kulit pisang, cara pembuatan silase kulit pisang, cara penggunaan atau pemberian kepada ternak, serta manfaat dari silase kulit pisang kepada masyarakat Desa Burno Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang khususnya untuk daerah yang dekat dengan IKM sebagai solusi menangani permasalahan limbah kulit pisang dan peningkatan kesejahteraan terutama bagi peternak serta masyarakat Indonesia pada umumnya yang aman, ramah lingkungsn, efektif dan ekonomis.

1.4  Manfaat
Dengan adanya penyuluhan tentang cara pemanfaatan limbah kulit pisang menjadi silase untuk pakanternak ruminansia diharapkan dapat membentuk karakter masyarakat Desa Burno Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang yang kreatif dan peduli lingkungan melalui semangat entrepreneurship yang berwawasan lingkungan.




BAB II
GAMBARAN UMUM PENYULUHAN

2.1 Gambaran Umum Kegiatan Penyuluhan
            Kabupaten Lumajang merupakan salah satu daerah di Indonesia dengan sentra peternakan dan pertanian/perkebunan yang cukup besar yang tersebar di kecamatan dan penjuru desa.Diantara kawasan dengan hasil pertanian/perkebunan dan peternakan yang cukup menjanjikan salah satunya adalah di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang tepatnya di desa Burno. Daerah ini memiliki potensi pertanian maupun perkebunan yang menjanjikan termasuk berbagai jenis buah-buahan. Salah satu hasil perkebuan buah yang utama di daerah Senduro termasuk Desa Burno adalah pisang mas sebagai komoditi khas di Lumajang. Sebagaimana dijelaskan dalam data statistik kabupaten Lumajang (2013) bahwa data hasil komoditi pisang di Kecamatan Senduro terbilang cukup potensial meliputi Desa Purworejo (39.670 pohon), Sarikemuning (272.220 pohon), Pandansari (102.050 pohon), Senduro (348.010 pohon), Burno (237.900 pohon), Kandang tepus (112.125 pohon), Bedayu talang (23.595 pohon), Wono cepoko ayu (15.600 pohon) dan Kandangan (69.550 pohon).
            Pada dasarnya sektor peternakan di desa Burno juga cukup terkenal terutama dari sentra peternakan kambing etawanya. Namun untuk jumlah ternak secara keseluruhan di daerah tersebut cukup besar. Hal ini telah disebutkan dalam data statistik hasil peternakan Kecamatan Senduro tahun 2012 bahwa populasi sapi potong dan sapi perah pada tahun 2012 masing-masing sebanyak 3.119 ekor dan 3.227 ekor, domba sebanyak 1.619 ekor, kambing 9.130 ekor, ayam buras sebanyak 46.044 ekor, ayam ras pedaging sebanyak 48.000 ekor, dan itik sebanyak 1.545 ekor. Data tersebut menunjukkan adanya bahwa sektor peternakan di Kecamatan Senduro cukup menjanjikan dimana masyarakatnya banyak tertarik dalam bidang peternakan.
            Dengan melihat potensi dari sektor pertanian/perkebunan dalam hal ini komoditi pisang yang banyak diolah sebagai produk makanan jadi, dimana banyak limbah yang dihasilkan dari tanaman tersebut serta potensi pengembangan peternakan yang cukup menjanjikan di Kecamatan Senduro, maka perlu adanya suatu upaya penyuluhan dalam hal pemanfaatan limbah tanaman pisang tersebut. Dalam hal ini limbah kulit pisang yang masih banyak mengandung nilai nutrisi dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif dalam bentuk silase untuk ternak ruminansia di daerah setempat.

2.2 Gambaran Umum Masyarakat Sasaran
            Selain sebagai sentra penghasil  komoditi buah pisang, Kecamatan Senduro khususnya di desa Burno merupakan pusat industri pengolahan buah pisang di Kabupaten Lumajang. Sentra industri ini sudah berkembang mulai dari industri kecil rumahan yang bisa memperdayakan tenaga kerja masyarakat setempat. Sebagaimana dijelaskan Baroh (2009) bahwa kabupaten Lumajang merupakan salah satu daerah sentra penghasil pisang di Jawa Timur dan banyak home industri produk olahan berbasis pisang, berproduksi setiap hari dalam jumlah besar. Dan dijelaskan pula bahwa sebagian besar yakni 83% usaha home industri tersebut merupakan pekerjaan utama dan 17% adalah pekerjaan sampingan.
            Sementara itu, untuk jumlah masyarakat peternak di Kecamatan Senduro juga cukup banyak dengan kelas ekonomi menengah ke bawah. Terkait hal tersebut, Pemkab. Lumajang (2004) dalam Prayitno (2007) menyatakan bahwa jumlah usaha dibidang pertanian dan peternakan di Kabupaten Lumajang sebanyak 38,57%, industri rumah tangga 32,86%, dan usaha lainnya (perdagangan, kerajinan dll.) sebanyak 28,57%. Untuk jumlah peternak sapi perah khususnya di Kecamatan Senduro menurut Sorting Data Koperasi Susu di Jatim (2006) dalam Nugroho (2011) adalah sebanyak 504 orang dengan induk sapi sejumlah 1048 ekor. Dengan demikian usaha pengembangan peternakan bisa didukung dengan upaya mengurangi biaya produksi dalam hal pakan dengan pemanfaatan pakan alternatif silase dari limbah kulit pisang yang banyak tersedia di daerah tersebut. Limbah kulit pisang yang banyak dihasilkan dari industri pengolahan pisang di Kecamatan Senduro khususnya di Desa Burno dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif ternak ruminansia sebagai upaya untuk mengurangi biaya pakan sekaligus dapat menyediakan pakan bernutrisi bagi ternak pada saat musim paceklik. 




BAB III
METODE PENYULUHAN

3.1 Metode Pelaksanaan
            Metode pelaksanaan program penyuluhan ini melalui beberapa tahap sebagai berikut :
Persiapan kegiatan
            Persiapan kegiatan dimulai dengan proses perijinan di daerah yang akankita beri penyuluhan nanti yakni di Desa Burno Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang. Perijinan dimulai dengan mendatangi kantor Bupati hingga kelurahan daerah tersebut untuk mendapatkan surat ijin penyuluhan.
Pelaksanaan Kegiatan
            Setelah memperoleh ijin dari pihak terkait serta diperoleh data calon peserta, maka dilaksanakan sosialisasi program penyuluhan tentang konsep pemanfaatan limbah kulit pisang menjadi silase untuk pakan ternak ruminansia. Selanjutnya dibuat kesepakatan mengenai waktu pelaksanaan program.
Rangkaian kegiatan penyuluhan yaitu :
 

3.2 Gambaran Teknologi
            Berdasarkan permasalahan yang ada di Desa Burno, maka kami menawarkan teknologi sederhana dalam pembuatan silase kulit pisang untuk menjadi pakan alternative ternak ruminansia.  Bahan baku untuk membuat silase kulit pisang terdiri dari kulit pisang dan molasses. Menurut Sutardi (1978) dalam Sutrisno (2004) bahwa nilai gizi kulit pisang cukup baik, maka kulit pisang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Kulit pisang dalam 100% bahan kering mengandung protein kasar 7,08%, bahan ekstrak tanpa nitrogen 63,1%, lemak 8,34%, serat kasar 11,8 % dan abu 9,66% . Molasses atau biasa disebut dengan tetes tebu ditambahkan karena dalam proses ensilase memerlukan karbohidrat mudah terfermentasi untuk merangsang pertumbuhan bakteri asam laktat. Menurut Sutardi (1978) dalam Sutrisno (2004) bahwa komposisi kimia tetes dalam 100% bahan kering adalah abu 11%, protein 3,94%, lemak 0,3%, SK 0,4%, dan BETN 84,4%. Prosedur dalam pembuatan silase kulit pisang adalah dengan memotong-motong kulit pisang hingga ukuran sekitar 5 cm, kemudian kulit pisang dilayukan sehingga kadar air sekitar 67%. Kulit pisang tersebut dihomogenkan dengan tetes tebu dengan presentase 4% dari bahan kering kulit pisang. Kemudian dimasukkan kedalam ember atau silo sampai padat dan ditutup rapat, diikat dengan karet ban. Selanjutnya diperam selama 4 minggu. Karena menurut Sutrisno (2004) bahwa kombinasi perlakuan penambahan tetes tebu 4% dan lama pemerahan 4 minggu memberikan respon tertinggi terhadap kualitas nutrisi silase kulit pisang dilihat darikadar protein kasar, lemak kasar, serat kasar, BETN, kadarabu, produksi VFA, dan NH3.
            Alat yang digunakan dalam proses penyuluhan adalah LCD, alat untuk mencampur kulit pisang dan molasses seperti plastic hamparan, ember dan tutupnya serta karet ban untuk mengikat ember supaya oksigen tidak masuk dalam ember yang digunakan untuk pemeraman.

3.3 Media Penyuluhan
            Media yang kami gunakan dalam program penyuluhan ini adalah dengan menggunakan flow chart dan blog yang telah kami buat. Media ini kami gunakan untuk menjelaskan proses pembuatan silase dari kulit pisang. Flow chart yang kami buat akan ditampilkan menggunakan LCD. Kemudian dengan membuat poster yang berisi ringkasan latar belakang dan flow chart mengenai metode pembuatan silase dari kulit pisang yang akan di tempel dibeberapa lokasi yang sudah disetujui oleh pemerintah setempat.
Dalam kegiatan penyuluhan, kami juga akan mendemonstrasikan mengenai pembuatan silase kulit pisang dengan skala kecil sesuai dengan poster yang telah kami persiapkan.

Flow Chart


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, H. A. 2013. Pakde Karwo Dampingi SBYTinjau IKM Keripik Pisang. http://birohumas.jatimprov.go.id. Diaksespada tanggal 4 Mei 2014.
Anggraeny, Y.N.2006. Potensi Bahan Pakan Inkonvensional Asal Limbah Pertanian Dan Perkebunan Di Beberapa Kabupaten Di Jawa Timur. Seminar Nasional Teknologi Peternakan Dan Veteriner, Pasuruan.
Bappeda dan BPS Kabupaten Lumajang. 2013. Data Statistik Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang dalam angka 2013. Dikutip dari http://lumajangkab.bps.go.id/data/publikasi/publikasi_20/publikasi/files/search/searchtext.xml. Diakses tanggal 4 Mei 2014.
Baroh, Istis. 2009. Konsep Kemitraan Home Industri dengan Lembaga Keuangan di Kabupaten Lumajang. Lembaga Penelitian Universitas Muhammadiyah Malang.
Humas Setda Kabupaten Lumajang. 2013. Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Dengan Kembangkan Pertanian. http://www.lumajang.go.id/index.php.Diakses4 Mei 2014
Muhammad, S. H. 2013. Jangan Remehkan Keripik Pisang. http://www.demokrat.or.id/2013/07/jangan-remehkan-keripik-pisang-2/feed/. Diakses4 Mei 2014.
Nugroho, Bambang Ali. 2011. Keragaan Peternak Sapi Perah di Jawa Timur (Studi pada Empat Wilayah Pos Penampungan Susu/ PPS. AGRISE Vol. XI, No. 2, hal : 91-101.
Prayitno, Hendrik. 2007. Analisis Pengaruh Dana Hibah Prestasi terhadap Pendapatan Anggota Kelompok Pengembangan Partisipasi Lahan Kering Terpadu. J-SEP, Vol.1, No. 2, hal: 36-47
Sumarsih, S.,  Sutrisno, C. I.,  dan Sulistiyanto, B. 2009. Kajian Penambahan Tetes Sebagai Aditif Terhadap Kualitas Organoleptik dan Nutrisi Silase Kulit Pisang. Seminar Nasional Kebangkitan Peternakan, Semarang.
Sutrisno, C.I. 2004. Utilitas Kulit Pisang Pada Proses Fermentasi Dengan Penambahan Tetes. Seminar Nasional Fakultas Peternakan, UNDIP Semarang.
Ujianto, A. 2003. Peluang Pemanfaatan Limbah Pisang Sebagai Pakan Ternak. Prosiding Temu Teknis Fungsional Non Peneliti. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Ciawi , Bogor.



Sabtu, 10 Mei 2014

Budidaya Kambing Dan Domba

panduan cara budidaya ternak kambing domba susu pedaging natural nusantara poc nasa hormonik viternaA. Pendahuluan
Pola peternakan kambing dan domba potong atau pedaging di Indonesia sebagian besar masih berskala kecil sehingga perlu diupayakan secara lebih intensif. Pertambahan penduduk yang tinggi di Indonesia ditambah dengan semakin meningkatnya daya beli masyarakat menyebabkan kebutuhan daging selama ini belim mencukupi permintaan. Produksi dalam negeri untuk daging baru mencapai ± 400.000 ton/tahun, sehingga sampai dengan saat ini masih mengandalkan impor daging.
Untuk itu PT. NATURAL NUSANTARA  dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan) berupaya menbantu meningkatkan budidaya kambing dan domba potong dengan target sasaran tercapainya peningkatan kualitas dan kuantitas daging.

B. Penggemukan
Penggemukan kambing atau domba adalah suatu aktivitas pemeliharaan kambing atau domba dewasa yang sebelumnya dalam kondisi kurus selanjutnya ditingkatkan barat badannya melalui proses pembesaran daging dalam waktu 3-5 bulan.

C. Jenis-jenis kambing dan domba potong
a) Kambing kacang
Cirinya adalah badan kecil dan relatif pendek, telinga pendek dan tegak, jantan dan betina memiliki tanduk, leher pendek dan punggung meninggi, warna bulu bervariasi, ada yang hitam, coklat, merah atau belang hitam-putih.
b) Kambing Peranakan Etawa (PE)
Sasaran utama dari kambing PE pada dasarnya adalah penghasil susu, tetapi dapat digunakan juga sebagai penghasil daging, terutama setelah masa afkir. Ciri dari kambing ini adalah bagian hidung ke atas melengkung, panjang telinga antara 15-30 cm, menggantung ke bawah dan sedikit kaku, warna bulu bervariasi antara hitam dan coklat, memiliki bulu tebal dan agak panjang dibawah leher dan pundak (jantan), di bagian bawah ekor (betina).
c) Domba Ekor Gemuk
Memiliki ciri bentuk ekor yang panjang, tebal, besar dan semakin ke ujung makin kecil; tidak mempunyai tanduk; sebagian besar bewarna putih, tetapi ada anaknya yang bewarna hitam atau kecoklatan.

d) Domba Ekor Tipis
Memiliki ciri tubuh yang kecil, ekor relatif kecil dan tipis, bulu bewarna putih, tidak bertanduk (betina), bertanduk kecil dan melingkar (jantan).


D. Pemilihan bibit
Bibit kambing atau domba bakalan yang baik untuk pengggemukan adalah sebagai berikut :
1.      umur antara 8 bulan – 1 tahun.
2.      Ukuran badan normal, sehat, bulu bersih dan mengkilap, garis punggung dan pinggang lurus.
3.      Keempat kaki lurus, kokoh dan tumit terlihat tinggi.
4.      Tidak ada cacat pada bagian tubuhnya, tidak buta.
5.      Hidung bersih, mata tajam dan bersih serta anus  bersih.
   
E. Tata Laksana Pemeliharaan
5.1 Perkandangan
Pada umumnya tipe kandang pada ternak kambing dan domba adalah berbentuk panggung. Konstruksi kandang dibuat panggung di mana di bawah lantai kandang terdapat kolong untuk menampung kotoran. Dengan adanya kolong berfungsi untuk menghindari kebecekan dan kontak langsung dengan tanah yang bisa jadi tercemar penyakit. Lantai kandang ditinggikan antara 0,5 – 2 m. Bak pakan dapat ditempelkan pada dinding. Ketinggian bak pakan untuk kambing dan domba berbeda. Bak pakan untuk kambing dibuat agak tinggi, kira-kira sebahunya karena kebiasaan kambing memakan daun-daun perdu. 

Untuk Domba, dasar bak pakan horizontal dengan lantai kandang karena kebiasaan domba merumput. Lantai kandang dibuat dari kayu papan atau belahan bambu yang disusun dengan jarak 2-3 cm. Dengan demikian, kotoran dan air kencing mudah jatuh pada kolong, sementara tracak/kaki kambing dan domba tidak mudah terperosok dan terjepit terjepit.
Ukuran Kandang :
  • Anak : 1 X 1,2 m /2 ekor (lepas sapih),
  • Jantan dewasa : 1,2 X 1,2 m/ ekor
  • Dara/ Betina dewasa :1 X 1,2 m /ekor
  • Induk dan anak 1,5 X 1,5 m/induk + 2 anak
Dasar kolong kandang digali sedalam ±20 cm dibagian pinggirnya dan 30-50 cm pada bagian tengah serta dibuatkan saluran yang menuju bak penampung kotoran. Kotoran kemudian dapat diproses untuk menjadi pupuk kandang. Dan sudah semestinya kandang harus terjaga kebersihannya sehingga ternak kambing dan domba lebih sehat karena tidak mudah terserang penyakit.
5.2 Pakan
Pakan utama yang umum diberikan berupa hijauan segar, seperti rumput, legum(daun lamtoro dan turi, dll) atau aneka hijauan (daun singkong yang mempunyai protein cukup tinggi), daun nangka dan daun pepaya). Khusus legume dan aneka hijauan sebelum diberikan pada ternak sebaiknya dilayukan terlebih dahulu 2-3 jam dibawah terik matahari untuk menghilangkan racun yang ada dalam hijauan tersebut.
Selain pakan hijauan, dapat juga ditambah dengan pakan padat  atau konsentrat. Jenis yang dapat digunakan adalah bekatul, ampas tahu, ketela pohon (dicacah dahulu). Jenis pakan tersebut relatif murah dan mudah dibeli di mana saja. Pakan konsentrat ini akan memberikan sumbangan cukup besar untuk kebutuhan nutrisinya. Kebutuhan setiap ekor kira-kira 3 kg per hari dengan komposisi 40% berkatul 40% ampas tahu dan 20% ketela pohon.
Teknik pemberian konsentrat disarankan jangan bersamaan dengan hijauan,  karena pakan ini mempunyai daya cerna dan kandungan nutrisi yang berbeda dengan hijauan.  Jumlah pemberian konsentrat sekitar 3 kg/ekor/hari.
Contoh pola pemberian pakan pada ternak kambing
tabel pemberian pakan pada budidaya ternak kambing natural nusantara nasa
 
Catatan: Pemberian konsentrat disarankan diberikan saat kambing atau domba sudah banyak mengkonsumsi hijauan, tetapi belum terlihat kenyang.
Selain pemberian rumput dan konsentrat, masih dibutuhkan pakan pelengkap dengan kandungan gizi ternak lengkap yang belum terdapat pada hijauan maupun konsentrat untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan produksi ternak.  Sehingga target budidaya ternak yaitu pertumbuhan optimal dan sehat dapat tercapai. Sebagai pakan pelengkap maka PT. NATURAL NUSANTARA mengeluarkan suplemen khusus ternak yaitu VITERNA.Produk ini menggunakan teknologi asam amino yang diciptakan dengan pendekatan fisiologis tubuh Kambing dan Domba, yaitu dengan meneliti berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak.
VITERNA Plus mengandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak, yaitu :
  • Asam-asam amino esensial, yaitu Arginin, Hiistidin, Leusin, Isoleusin dan lain-lain sebagai penyusun protein tubuh, pembentuk sel dan organ tubuh.
  • Vitamin lengkap yang berfungsi untuk berlangsungnya proses fisiologis tubuh yang normal dan meningkatkan ketahanan tubuh kambing/domba dari serangan penyakit.
  • Mineral-mineral lengkap yaitu N, P, K,  Ca, mg , Cl dan lain-lain sebagai penyusun tulang, darah dan berperan dalam sintesis enzim untuk memperlancar proses metabolisme  dalam tubuh.
Cara penggunaannya adalah dengan dicampurkan dalam air minum atau komboran pakan konsentrat dengan dosis :
±10  cc atau 1 tutup botol VITERNA /ekor/hari. Penambahan VITERNA Plus tersebut dilakukan pada pemberian air minum atau komboran yang pertama.

Tata laksana reproduksi meliputi :
  • Dengan pengelolaan yang baik kambing/domba   dapat  melahirkan 7 bulan sekali.
  • Perkawinan kembali setelah melahirkan 1bulan kemudian.
  • Penyapihan anak dilaksanakan pada 3 – 4 bulan.
  • Umur dewasa kelamin 8 – 10 bulan
  • Siklus birahi 17 – 21 hari
  • Lama birahi 24 – 40 jam, bila birahi pagi maka sore atau    esok harinya harus dikawinkan
  • Masa kebuntingan : 5 bulan.
F. Pengendalian Penyakit
Tindakan pertama yang dilakukan pada usaha pemeliharaan Kado adalah melakukan pencegahan terjangkitnya penyakit pada ternak. Beberapa langkah pencegahan adalah sebagai berikut :
    panduan cara budidaya ternak kambing domba susu pedaging natural nusantara poc nasa hormonik viterna distributor nasa
  • Lahan yang digunakan untuk memelihara Kado harus bebas dari penyakit menular.
  • Kandang Kado harus kuat, aman dan bebas penyakit. Apabila digunakan kandang bekas kado yang telah terserang penyakit, kandang cukup dicucihamakan dengan disinfektan, kemudian dibiarkan beberapa saat. Apabila kandang tersebut bekas kado sehat cukup dicuci dengan air biasa.
  • Kado yang baru masuk sebaiknya dimasukkan  ke kandang karantina dulu dengan perlakuan khusus. Ternak yang diduga bulunya membawa penyakit sebaiknya dimandikan dan digosok dengan larutan sabun karbol, Neguvon, Bacticol Pour, Triatex atau Granade 5% EC dengan konsentrasi 4,5 gram/3 liter air. Untuk membasmi kutu, Kado dapat juga dimandikan larutan Asuntol  berkonsentrasi 3-6 gram/3 liter air.
  • Kandang dan lingkungan tidak boleh lembap dan bebas dari genangan air. Kelembapan yang tinggi dan genangan air mengakibatkan perkembangan nyamuk atau hewan sejenis yang menggigit dan menghisap darak ternak.
  • Dilakukan vaksinasi secara teratur. Vaksinasi bertujuan untuk mencegah terjangkitnya penyakit oleh Virus.
Beberapa penyakit yang dapat menyerang Kambing dan domba adalah : 1) Penyakit parasit (kudis, kutu, cacingan); 2) Penyakit Bakterial (Antarks, Cacar mulut, Busuk Kuku); 3) Penyakit Virus (Orf); 4) Penyakit lain (Keracunan sianida, Kembung Perut, Keguguran). Hal penting dalam pengendalian penyakit adalah meningkatkan kesehatan ternak dan kebersihan kandang dan lingkungan sekitarnya serta monitoring/pengamatan yang kontinyu pada ternak sehingga apabila terdapat gejala penyakit, segera dapat diketahui jenis penyakit tersebut dan cara pencegahan dan pengobatannya.


Budidaya Sapi Potong

A. PENDAHULUAN
 Usaha peternakan sapi potong mayoritas masih dengan pola tradisional dan skala usaha sambilan. Hal ini disebabkan oleh besarnya investasi jika dilakukan secara besar dan modern, dengan skala usaha kecilpun akan mendapatkan keuntungan yang baik jika dilakukan dengan prinsip budidaya modern. PT. NATURAL NUSANTARA dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan) membantu budidaya penggemukan sapi potong baik untuk skala usaha besar maupun kecil.


 
B. PENGGEMUKAN
 Penggemukan sapi potong adalah pemeliharaan sapi dewasa dalam keadaan kurus untuk ditingkatkan berat badannya melalui pembesaran daging dalam waktu relatif singkat (3-5 bulan). Beberapa hal yang berkaitan dengan usaha penggemukan sapi potong adalah :
1. Jenis-jenis Sapi Potong.
Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah :
a. Sapi Bali.
Cirinya berwarna merah dengan warna putih pada kaki dari lutut ke bawah dan pada pantat, punggungnya bergaris warna hitam (garis belut). Keunggulan sapi ini dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang baru.
b. Sapi Ongole.
Cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah.
c. Sapi Brahman.
Cirinya berwarna coklat hingga coklat tua, dengan warna putih pada bagian kepala. Daya pertumbuhannya cepat, sehingga menjadi primadona sapi potong di Indonesia.
d. Sapi Madura.
Mempunyai ciri berpunuk, berwarna kuning hingga merah bata, terkadang terdapat warna putih pada moncong, ekor dan kaki bawah. Jenis sapi ini mempunyai daya pertambahan berat badan rendah.
e. Sapi Limousin.
Mempunyai ciri berwarna hitam bervariasi dengan warna merah bata dan putih, terdapat warna putih pada moncong kepalanya, tubuh berukuran besar dan mempunyai tingkat produksi yang baik
2. Pemilihan Bakalan. Bakalan merupakan faktor yang penting, karena sangat menentukan hasil akhir usaha penggemukan. Pemilihan bakalan memerlukan ketelitian, kejelian dan pengalaman. Ciri-ciri bakalan yang baik adalah :
  • Berumur di atas 2,5 tahun.
  • Jenis kelamin jantan.
  • Bentuk tubuh panjang, bulat dan lebar, panjang minimal 170 cm tinggi pundak minimal 135 cm, lingkar dada 133 cm.
  • Tubuh kurus, tulang menonjol, tetapi tetap sehat (kurus karena kurang pakan, bukan karena sakit).
  • Pandangan mata bersinar cerah dan bulu halus.
  • Kotoran normal
 
 


C. TATA LAKSANA PEMELIHARAAN
1. Perkandangan.
Secara umum, kandang memiliki dua tipe, yaitu individu dan kelompok. Pada kandang individu, setiap sapi menempati tempatnya sendiri berukuran 2,5 X 1,5 m. Tipe ini dapat memacu pertumbuhan lebih pesat, karena tidak terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan dan memiliki ruang gerak terbatas, sehingga energi yang diperoleh dari pakan digunakan untuk hidup pokok dan produksi daging tidak hilang karena banyak bergerak. Pada kandang kelompok, bakalan dalam satu periode penggemukan ditempatkan dalam satu kandang. Satu ekor sapi memerlukan tempat yang lebih luas daripada kandang individu. Kelemahan tipe kandang ini yaitu terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan sehingga sapi yang lebih kuat cenderung cepat tumbuh daripada yang lemah, karena lebih banyak mendapatkan pakan.
2. Pakan.
Berdasarkan kondisi fisioloigis dan sistem pencernaannya, sapi digolongkan hewan ruminansia, karena pencernaannya melalui tiga proses, yaitu secara mekanis dalam mulut dengan bantuan air ludah (saliva), secara fermentatif dalam rumen dengan bantuan mikrobia rumen dan secara enzimatis setelah melewati rumen.
Penelitian menunjukkan bahwa penggemukan dengan mengandalkan pakan berupa hijauan saja, kurang memberikan hasil yang optimal dan membutuhkan waktu yang lama. Salah satu cara mempercepat penggemukan adalah dengan pakan kombinasi antara hijauan dan konsentrat. Konsentrat yang digunakan adalah ampas bir, ampas tahu, ampas tebu, bekatul, kulit biji kedelai, kulit nenas dan buatan pabrik pakan. Konsentrat diberikan lebih dahulu untuk memberi pakan mikrobia rumen, sehingga ketika pakan hijauan masuk rumen, mikrobia rumen telah siap dan aktif mencerna hijauan.
 
Kebutuhan pakan (dalam berat kering) tiap ekor adalah 2,5% berat badannya. Hijauan yang digunakan adalah jerami padi, daun tebu, daun jagung, alang-alang dan rumput-rumputan liar sebagai pakan berkualitas rendah dan rumput gajah, setaria kolonjono sebagai pakan berkualitas tinggi.
Penentuan kualitas pakan tersebut berdasarkan tinggi rendahnya kandungan nutrisi (zat pakan) dan kadar serat kasar. Pakan hijauan yang berkualitas rendah mengandung serat kasar tinggi yang sifatnya sukar dicerna karena terdapat lignin yang sukar larut oleh enzim pencernaan.Oleh karena itu PT. NATURAL NUSANTARA juga mengeluarkan suplemen khusus ternak yaitu VITERNA Plus, POC NASA, dan HORMONIK. Produk ini, khususnya produk VITERNA Plus menggunakan teknologi asam amino yang diciptakan dengan pendekatan fisiologis tubuh sapi, yaitu dengan meneliti berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak.VITERNA Plus mengandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak, yaitu :
  • Mineral-mineral sebagai penyusun tulang, darah dan berperan dalam sintesis enzim, yaitu N, P, K, Ca, Mg, Cl dan lain-lain.
  • Asam-asam amino, yaitu Arginin, Histidin, Leusin, Isoleusin dan lain-lain sebagai penyusun protein, pembentuk sel dan organ tubuh.
  • Vitamin lengkap yang berfungsi untuk berlangsungnya proses fisiologis tubuh yang normal dan meningkatkan ketahanan tubuh sapi dari serangan penyakit.
  • Asam – asam organik essensial, diantaranya asam propionat, asam asetat dan asam butirat.
Sementara pemberian POC NASA yang mengandung berbagai mineral penting untuk pertumbuhan ternak, seperti N, P, K, Ca, Mg, Fe dan lain-lain serta dilengkapi protein dan lemak nabati, mampu meningkatkan pertumbuhan bobot harian sapi, meningkatkan ketahanan tubuh ternak, mengurangi kadar kolesterol daging dan mengurangi bau kotoran. Sedangkan HORMONIK lebih berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh bagi ternak. Di mana formula ini akan sangat membantu meningkatkan pertumbuhan ternak secara keseluruhan.
Cara penggunaannya adalah dengan dicampurkan dalam air minum atau komboran pakan konsentrat. Caranya sebagai berikut :
  1. Campurkan 1 botol VITERNA Plus (500 cc) dan 1 botol POC NASA (500 cc) ke dalam sebuah wadah khusus. Tambahkan ke dalam larutan campuran tersebut dengan 20 cc HORMONIK. Aduk atau kocok hingga tercampur secara merata.
  2. Selanjutnya berikan kepada ternak sapi dengan dosis 10 cc per ekor. Interval 2 kali sehari, yaitu pagi dan sore hari.
D. PENGENDALIAN PENYAKIT
Dalam pengendalian penyakit, yang lebih utama dilakukan adalah pencegahan penyakit daripada pengobatan, karena penggunaan obat akan menambah biaya produksi dan tidak terjaminnya keberhasilan pengobatan yang dilakukan. Usaha pencegahan yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan sapi adalah :a. Pemanfaatan kandang karantina. Sapi bakalan yang baru hendaknya dikarantina pada suatu kandang terpisah, dengan tujuan untuk memonitor adanya gejala penyakit tertentu yang tidak diketahui pada saat proses pembelian. Disamping itu juga untuk adaptasi sapi terhadap lingkungan yang baru. Pada waktu sapi dikarantina, sebaiknya diberi obat cacing karena berdasarkan penelitian sebagian besar sapi di Indonesia (terutama sapi rakyat) mengalami cacingan. Penyakit ini memang tidak mematikan, tetapi akan mengurangi kecepatan pertambahan berat badan ketika digemukkan. Waktu mengkarantina sapi adalah satu minggu untuk sapi yang sehat dan pada sapi yang sakit baru dikeluarkan setelah sapi sehat. Kandang karantina selain untuk sapi baru juga digunakan untuk memisahkan sapi lama yang menderita sakit agar tidak menular kepada sapi lain yang sehat.b. Menjaga kebersihan sapi bakalan dan kandangnya. Sapi yang digemukkan secara intensif akan menghasilkan kotoran yang banyak karena mendapatkan pakan yang mencukupi, sehingga pembuangan kotoran harus dilakukan setiap saat jika kandang mulai kotor untuk mencegah berkembangnya bakteri dan virus penyebab penyakit.c. Vaksinasi untuk bakalan baru. Pemberian vaksin cukup dilakukan pada saat sapi berada di kandang karantina. Vaksinasi yang penting dilakukan adalah vaksinasi Anthrax.Beberapa jenis penyakit yang dapat meyerang sapi potong adalah cacingan, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), kembung (Bloat) dan lain-lain.
 
E. PRODUKSI DAGING
Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi daging adalah
  1. Pakan.Pakan yang berkualitas dan dalam jumlah yang optimal akan berpengaruh baik terhadap kualitas daging. Perlakuan pakan dengan NPB akan meningkatkan daya cerna pakan terutama terhadap pakan yang berkualitas rendah sedangkan pemberian VITERNA Plus memberikan berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak sehingga sapi akan tumbuh lebih cepat dan sehat.
  2. Faktor Genetik.Ternak dengan kualitas genetik yang baik akan tumbuh dengan baik/cepat sehingga produksi daging menjadi lebih tinggi.
  3. Jenis Kelamin.Ternak jantan tumbuh lebih cepat daripada ternak betina, sehingga pada umur yang sama, ternak jantan mempunyai tubuh dan daging yang lebih besar.
  4. Manajemen.Pemeliharaan dengan manajemen yang baik membuat sapi tumbuh dengan sehat dan cepat membentuk daging, sehingga masa penggemukan menjadi lebih singkat.
 

 

Jumat, 09 Mei 2014

Membangun Kandang Sapi Yang Baik & Benar

Kandang sangat diperlukan dalam usaha pembibitan dan penggemukan sapi potong. Ukuran kandang yang digunakan sebaiknya disesuaikan dengan jumlah sapi yang dipelihara dan perencanaan ke depannya. Menurut drh. Samsul Fikar & Dadi Ruhyadi di dalam bukunya, Buku Pintar Beternak & Bisnis Sapi Potong, kandang yang baik dan benar harus memenuhi beberapa persyaratan berikut ini.

 1. Letak dan Arah Kandang
Menurut pengalaman penulis di lapangan, pertumbuhan bobot badan sapi dengan kandang (bagian kepala sapi) yang menghadap ke timur lebih baik dibandingkan dengan sapi yang kandangnya menghadap arah lain. Maka, jika membangun kandang tunggal, sebaiknya dibuat menghadap ke timur. Namun, jika membangun kandang ganda, buatlah membujur utara - selatan.

2. Ukuran Kandang
Ukuran kandang harus disesuaikan dengan ukuran tubuh sapi dan jenis kandang yang digunakan, apakah kandang individu atau kandang kelompok. Umumnya, kebutuhan luas kandang sapi per ekor sekitar 1.5 x 2.5 m, 1.5 x 2 m, atau 1 x 1.5 m. Apa pun jenis kandang yang dibuat, baik kandang kelompok ataupun individu, peternak harus memenuhi kebutuhan luas kandang per ekor tersebut.

3. Konstruksi Kandang
Konstruksi kandang harus kuat serta terbuat dari bahan- yang ekonomis dan mudah diperoleh. Di dalam kandang harus ada drainase dan saluran pembuangan Iimbah yang mudah dibersihkan. Tiang kandang sebaiknya dibuat dari kayu berbentuk bulat agar Iebih tahan lama dibandingkan dengan kayu berbentuk kotak. Selain itu, kayu bulat tidak akan melukai tubuh sapi, berbeda dengan kayu kotak yang memiliki sudut tajam.


- Lantai
kandang-lantaiLantai kandang sapi biasanya dibuat dari bahan semen atau tanah yang dipadatkan dan dibuat lebih tinggi dari lahan sekitarnya. Lantai bisa dialasi jerami, karpet, kayu datar, papan, atau serbuk gergaji. Pemberian alas bertujuan agar kaki dan tubuh sapi tidak terluka terkena lantai semen yang kasar. Pemberian alas juga membuat kaki dan tubuh sapi tidak mudah kotor serta tidak terserang kuman penyakit. Selain itu, lantai yang diberi alas juga menjadi tidak cepat rusak akibat tergerus kaki sapi. Lantai kandang harus kuat, tidak licin, dan dibuat dengan kemiringan 15 derajat ke arah selokan di belakang sapi untuk mempermudah penampungan kotoran sapi dan pakan yang jatuh.

Kandang bakalan dan anakan biasanya hanya beralaskan semen. Sementara itu, kandang pembibitan biasanya beralaskan serbuk gergaji atau sekam. Kandang pembibitan atau persalinan membutuhkan kondisi yang mutlak kering. Karena itu, setiap periode melahirkan, serbuk gergaji harus diganti dengan yang baru.

- Dinding
Dinding kandang tidak boleh tertutup seluruhnya, harus dibuat terbuka sebagian agar sirkulasi udara di dalam kandang lancar. Bahan yang digunakan sebagai dinding bisa berupa tembok beton, papan, kayu, bambu, dan bilik bambu. Kadang, dinding kandang hanya berupa tempat minum dan tempat pakan yang dibuat setinggi 0.5--1 meter dari permukaan tanah.

- Atap
Atap kandang bisa terbuat dari bahan asbes, genting, rumbia, atau seng. Kandang untuk sapi potong bisa menggunakan atap dari asbes, karena sapi potong lebih tahan terhadap panas. Kandang sapi juga boleh tidak menggunakan atap alias terbuka. Kandang terbuka yang kandang-lorongberatapkan langit ini biasanya digunakan untuk memelihara sapi bunting atau bakalan yang baru datang di peternakan. Kandang seperti ini membantu betina bunting untuk berlatih agar proses melahirkan bisa lancar.

- Lorong
Di kandang individu, biasanya terdapat lorong di tengah kandang sebagai area lalu lintas peternak atau pekerja untuk memberi pakan atau minum sapi. Lorong ini biasanya berukuran 0.5--1 meter dan dibuat dari bahan semen. Lantai semen sebaiknya diberi corak garis-garis agar tidak licin.

- Selokan
Selokan berfungsi sebagai tempat pembuangan kotoran. Selokan biasanya dibuat dengan lebar 20--30 cm dan kedalaman 10--20 cm. Selokan ini dibuat di dalam kandang di bagian ekor sapi, baik itu di kandang tunggal maupun kandang ganda. Tujuannya, agar pekerja mudah membersihkan kotoran dan urine sapi.

- Bak Pakan dan Minum
kandang-pakanBak pakan dan bak air minum dibuat di depan kandang dengan perbandingan 2 : 1. Artinya, jika panjang bak pakan satu meter, maka panjang bak air minum setengah meter. Tempat pakan dan minum ini dibuat dari bahan semen atau papan kayu dengan dasar rapat agar pakan tidak mudah tercecer. Tempat minum tidak boleh bocor dan harus mudah dibersihkan.

Selain hal di atas, ada beberapa ketentuan-ketentuan lainnya dalam pembuatan dan pengaturan kandang yang baik dan benar dan disesuaikan dengan jenis pemeliharaan. Beberapa peralatan juga sangat dibutuhkan dalam menunjang kesuksesan pemeliharaan sapi.

Teknologi Pakan ( Pembuatan Jerami Amoniasi )

  Latar Belakang
 • Hijauan merupakan sumber pakan utama untuk ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan domba)
  • Untuk meningkatan produksi perlu penyediaan hijauan pakan yang cukup baik kuantitas, kualitas maupun kontinuitasnya
 • Hijauan pakan ternak yang umum diberikan untuk ternak ruminansia adalah rumput-rumputan yang berasal dari padang penggembalaan atau kebun rumput, tegalan, pematang serta pinggiran jalan.


Faktor Penghambat Penyedian Hijauan Pakan
(a)Terjadinya perubahan fungsi lahan yang sebelumnya sebagai sumber hijauan pakan menjadi lahan pemukiman, lahan untuk tanaman pangan dan tanaman industri
(b)Sumberdaya alam untuk peternakan berupa padang penggembalaan di Indonesia semakin berkurang
(c)Secara umum di Indonesia ketersediaan hijauan pakan juga dipengaruhi oleh iklim, sehingga pada musim kemarau terjadi kekurangan hijauan pakan ternak dan sebaliknya di musim hujan jumlahnya melimpah
Solusi
·         Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan
·         Sumber limbah pertanian diperoleh dari komoditi tanaman pangan, dan ketersediaanya dipengaruhi oleh pola tanam dan luas areal panen dari tanaman pangan di suatu wilayah
·         Jenis limbah pertanian sebagai sumber pakan adalah jerami padi, jerami jagung, jerami kedelai, jerami kacang tanah, pucuk ubi kayu, serta jerami ubi jalar dll.
·         Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia
·         Penggunaan jerami padi sebagai pakan ternak telah umum dilakukan di daerah tropik, terutama sebagai makanan ternak pada musim kemarau
·         Penggunaan jerami padi sebagai makanan ternak mengalami kendala terutama disebabkan adanya faktor pembatas dengan nilai nutrisi yang rendah yaitu kandungan protein rendah, serat kasar tinggi, serta kecernaan rendah
·         Pemanfaatan jerami padi sebagai pakan baru mencapai 31-39%, sedangkan yang dibakar atau dikembalikan ke tanah sebagai pupuk 36-62%, dan sekitar 7-16% digunakan untuk keperluan industri

Kelemahan Jerami Padi
·         Kandungan nutrisi yang rendah, misalnya kandungan protein jerami 3-5 %, sedangkan protein rumput gajah mencapai 12-14%
·         Rendahnya kecernaan yang disebabkan oleh:
       1. terdapat lignin sekitar 6-7%
       2. Mengandung silikat 13 %
·         Silikat dan lignin ini bagaikan kaca pelapis, yang melapisi zat-zat yang berguna dan bernilai energi tinggi seperti protein, selulose, hemiselulose
·         Ikatan serat di dalamnya juga sangat kuat
Pengolahan Jerami Padi dengan Amoniasi Urea
1.      Amoniasi merupakan suatu cara pengolahan jerami padi secara kimiawi dengan menggunakan gas amonia
2.      Pengadaan gas amonia mahal
3.      Urea atau CO(NH2)2, Sumber gas amonia yang murah dan mudah diperoleh,
4.      1 kg urea menghasilkan 0,57 kg gas amonia
5.      Urea merupakan senyawa kimia yang mengandung + 45 % unsur nitrogen

Manfaat Amoniasi
1.      Merubah tekstur dan warna jerami yang semula keras berubah menjadi lunak dan rapuh
2.      Warna berubah dari kuning kecoklatan menjadi coklat tua
3.      Meningkatkan kadar protein, serat kasar, energi bruto (GE), tetapi menurunkan kadar bahan ekstrak tiada nitrogen (BETN) dan dinding sel
4.      Meningkatkan bahan kering, bahan organik, dinding sel, nutrien tercerna total, energi tercerna, dan konsumsi bahan kering jerami padi
5.      NH3 cairan rumen meningkat
6.      Memberikan balan nitrogen yang positif
7.      Menghambat pertumbuhan jamur

8.      Memusnahkan telur cacing yang terdapat dalam jerami.

KRITIK & SARAN

Penulis mengucapkan terima kasih atas kunjungan anda atau sudah membaca isi dari blog ini.

Tentu saja masih banyak kekurangan bagi penulis.

Untuk itu penulis meminta maaf apabila ada kesalahan atupun kata - kata yang tidak berkenan bagi pembaca.

Kritik dan saran yang membangun sangat kami tunggu dari pembaca.

Silahkan kirim kritik dan saran anda.


KIRIM KRITIK & SARAN

Peternakan Susu

Peternakan Susu 

Peternakan susu adalah salah satu jenis usaha di bidang peternakan yang mengusahakan produksi susu, biasanya dari sapi susu, namun juga bisa bersumber dari hewan lain seperti kambing, domba, unta, dan kerbau yang bisa langsung diolah di tempat, dikirimkan ke pabrik pengolahan susu, atau dijual secara langsung ke masyarakat.
Kebanyakan peternakan susu sapi menjual sapi jantan yang baru lahir, biasanya untuk dipelihara yang kemudian dipotong sebagai daging sapi muda (veal) atau sebagai sumber benih sapi susu. Kebanyakan peternakan susu juga menumbuhkan atau mencari bahan pakan mereka sendiri, terutama rumput dan daun dan batang jagung. Bahan pakan ini bisa diberikan secara langsung ke sapi atau disimpan dan difermentasikan sebagai silase untuk diberikan kemudian.


Peternakan susu telah menjadi bagian dari pertanian sejak ribuan tahun yang lalu, awalnya muncul sebagai usaha pemeliharaan skala kecil dan tersebar di berbagai tempat. Dalam perkembangannya selama ratusan tahun, peternakan yang dikhususkan untuk memproduksi susu mulai bermunculan. Peternakan susu skala besar ketika itu hanya dikembangkan ketika ada permintaan susu dalam jumlah besar atau jika susu bisa diolah menjadi produk yang lebih tahan lama, seperti keju, mentega, krim, dan sebagainya.
Peternakan susu tersentralisasi berkembang di sekitar desa dan pinggir kota di mana tumbuh bahan pakan sapi dan ruang untuk menggembalakan sapi. Petani bisa memelihara sapi dalam skala kecil untuk diperah susunya sebagai konsumsi keluarga sendiri, penghasil pupuk kandang, dan sumber tenaga penggerak.
Kebanyakan peternak melakukan pemerahan susu di dalam ruangan dua kali sehari, di dalam kandang. Pemberian pakan dapat dilakukan ketika pemerahan. Penggembalaan sapi saat ini sulit ditemukan, kecuali di daerah pedesaan di mana masih terdapat padang rumput atau wilayah alam terbuka luas. .

Susu umumnya diolah dengan tujuan meningkatkan usia simpan, beberapa diolah untuk meningkatkan rasa. Produk susu yang paling umum adalah susu homogenisasi, susu pasteurisasi, keju, krim, mentega, dan yoghurt. Di Indonesia, susu banyak dijual dalam bentuk susu kental manis, susu bubuk, dan susu skim. Sedangkan di daerah sekitar sentra produksi susu seperti Pangalengan, tersedia susu pasteurisasi dalam bentuk cair dan dingin, yaitu susu yang hanya melewati proses minimal (pasteurisasi) sehingga rasanya mendekati susu segar.